![]() |
| Buku dan Anak-Anak: Hubungan yang Perlu Dijaga |
Jika dalam tulisan sebelumnya saya mengajak kita melihat bahwa menulis adalah cara belajar sepanjang hayat, maka kali ini saya ingin mengajak kita mundur sedikit dan kembali ke hulu dari semua proses literasi itu: buku dan anak-anak.
Sebab sebelum seseorang menulis, ia lebih dulu membaca. Sebelum
seseorang mencintai ilmu, ia lebih dulu bersentuhan dengan cerita. Dan sebelum
seseorang percaya diri menyampaikan gagasan, ia lebih dulu mengenal dunia
melalui buku.
Sebagai pegiat literasi, saya semakin sadar bahwa hubungan
antara buku dan anak-anak bukanlah hubungan biasa. Ia seperti benih dan tanah.
Jika dijaga, ia tumbuh. Jika diabaikan, ia mengering.
Bagi sebagian orang dewasa, buku mungkin hanya benda. Tetapi
bagi anak-anak, buku adalah pintu. Pintu menuju imajinasi. Pintu menuju empati.
Pintu menuju keberanian bermimpi.
Anak yang akrab dengan buku akan memiliki dunia yang lebih luas daripada ruang tempat ia tinggal. Ia bisa mengenal profesi, budaya, sains, tokoh inspiratif, bahkan nilai-nilai kehidupan sebelum benar-benar mengalaminya. Dan di situlah peran kita sebagai pegiat literasi: memastikan pintu itu selalu terbuka.
Hari ini, anak-anak hidup di era gawai. Informasi datang
begitu cepat, visual begitu menarik, dan distraksi begitu banyak. Buku sering
kali kalah bersaing. Namun yang sering kita lupakan adalah: buku melatih
kedalaman.
Membaca buku mengajarkan anak
untuk: fokus dalam waktu yang lebih lama, membangun imajinasi sendiri, bukan
sekadar menerima visual, memahami alur berpikir, mengasah empati melalui
karakter dan cerita.
Jika kita ingin generasi yang mampu berpikir kritis dan
reflektif, maka hubungan antara buku dan anak-anak tidak boleh renggang.
Literasi bukan sekadar program. Ia adalah budaya. Dan budaya
tidak lahir dari perintah, tetapi dari kebiasaan yang menyenangkan. Anak tidak
akan mencintai buku jika buku selalu diposisikan sebagai kewajiban. Ia akan
mencintai buku jika buku hadir sebagai teman.
Sebagai guru, orang tua, dan
pegiat literasi, kita bisa memulai dari hal sederhana: Membacakan cerita
sebelum tidur, Menyediakan sudut baca yang nyaman, Mengajak anak memilih buku
yang ia sukai, Memberi contoh bahwa orang dewasa juga membaca
Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika mereka
melihat orang dewasa menikmati buku, mereka akan menirunya.
Tulisan saya sebelumnya tentang Menulis Sebagai Cara
Belajar Sepanjang Hayat menegaskan bahwa menulis adalah proses belajar
tanpa henti. Namun kita tidak bisa berharap anak gemar menulis jika ia belum
akrab dengan membaca.
Sebagai pegiat literasi, tugas kita bukan hanya membuat
program, tetapi menjaga api. Api itu bernama rasa ingin tahu. Api itu bernama
imajinasi. Api itu bernama cinta terhadap buku.
Hubungan antara buku dan anak-anak harus dirawat seperti
kita merawat tanaman: diberi waktu, perhatian, dan konsistensi. Karena
sejatinya, ketika seorang anak mencintai buku, ia sedang membangun masa
depannya sendiri.
Dan mungkin, dari tangan-tangan kecil yang hari ini memegang
buku cerita, kelak lahir penulis-penulis yang menjadikan menulis sebagai cara
belajar sepanjang hayat. Mari kita jaga hubungan itu. Mari kita rawat budaya
literasi. Mari kita terus menjadi bagian dari perjalanan anak-anak menuju dunia
yang lebih luas melalui buku.








