![]() |
| Menulis Sebagai Cara Belajar Sepanjang Hayat |
Pada tulisan sebelumnya, “Membaca di Tengah Kesibukan: Mungkin, Jika Mau”, kita belajar satu hal penting: bahwa membaca bukan soal punya waktu, tetapi soal kemauan. Dari membaca, pikiran kita terisi. Namun, ada satu langkah lanjutan yang sering luput kita sadari yakni menulis.
Menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata. Ia adalah cara kita belajar kembali dari apa yang telah kita baca, alami, dan renungkan.
Sebagai pegiat literasi, saya semakin percaya bahwa menulis adalah bentuk belajar yang paling jujur. Saat menulis, kita tidak bisa berpura-pura paham. Kita dipaksa berpikir ulang, menghubungkan ide, memilah mana yang benar-benar kita mengerti dan mana yang belum.
Menulis Itu Proses, Bukan Panggung
Banyak orang enggan menulis karena merasa tulisannya belum layak dibaca orang lain. Padahal, menulis tidak selalu harus dipublikasikan. Menulis bisa dimulai dari catatan kecil, refleksi harian, atau sekadar rangkuman dari bacaan pagi.
Menulis adalah ruang belajar pribadi. Ia bukan panggung untuk terlihat pintar, melainkan cermin untuk melihat sejauh mana kita memahami sesuatu. Saat kita menulis, kita sedang belajar tentang merumuskan pikiran, menyusun logika, dan melatih kepekaan terhadap makna.
Literasi Tidak Berhenti di Membaca
Budaya literasi sering kali berhenti pada slogan “ayo membaca”. Padahal, literasi yang hidup adalah literasi yang bergerak: dibaca, dipikirkan, lalu dituliskan kembali.
Menulis membuat proses literasi menjadi utuh. Dari teks yang kita baca, lahir pemahaman. Dari pemahaman, lahir tulisan. Dan dari tulisan, lahir sebuah dialog, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Di titik inilah literasi menjadi proses belajar sepanjang hayat.
Menulis untuk Bertumbuh, Bukan Sempurna
Sebagai pegiat literasi, kita tidak dituntut menulis dengan sempurna. Yang jauh lebih penting adalah menulis dengan jujur dan konsisten. Sedikit demi sedikit, tulisan kita akan tumbuh seiring dengan bertumbuhnya cara berpikir kita.
Menulis hari ini mungkin terasa biasa saja. Namun, jika dilakukan terus-menerus, ia akan menjadi jejak belajar yang sangat berharga. Karena sesungguhnya, orang yang terus menulis adalah orang yang terus belajar.
Menulis sebagai Tanggung Jawab Literasi
Ketika kita memilih menjadi bagian dari gerakan literasi, menulis bukan lagi sekadar pilihan pribadi. Ia menjadi bentuk tanggung jawab untuk berbagi pemikiran, pengalaman, dan harapan. Tidak semua tulisan harus mengubah dunia. Cukup jika tulisan kita mampu menguatkan satu orang, memantik satu ide, atau menemani satu pembaca di tengah kesibukannya, Itu sudah lebih dari cukup.
Teruslah Menulis, Teruslah Belajar
Jika membaca adalah pintu pengetahuan, maka menulis adalah jalan untuk memahaminya. Selama kita mau menulis, selama itu pula kita sedang belajar—tentang dunia, tentang orang lain, dan tentang diri sendiri.








